Mengenal Tentang Djoko Santoso yang Dimakamkan di San Diego Hills

Jenderal TNI Djoko Santoso, M.Si lahir pada tanggal 8 September 1952 di Surakarta, Jawa Tengah. Namun beliau meninggal tanggal 10 Mei 2020 di Jakarta di usianya pada 67 tahun. Beliau kemudian dimakamkan di San Diego Hills.

Tentang Djoko Santoso

Djoko Santoso pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat dari tahun 2005 hingga tahun 2007 hingga kemudian menjabat sebagai Panglima TNI mulai tahun 2007 hingga tahun 2010. Namun awal mula karirnya di dunia milit dimulai dengan mendapatkan jabatan sebagai Komandan Peleton 1 Kompi Senapan A Yonif 121 / Macan Kumbang.

Kemudian di tahun 1998, ia beliau memulai karirnya setelah menjadi perwira tinggi sebagai Waassospol Kaster TNI. Pada tahun 2000 ia menjabat sebagai Kasdam IV/Diponegoro dan di tahun 2001 menjabat sebagai Pangdivif 2/Kostrad.

Djoko Santoso mulai dikenal oleh banyak orang dengan namanya yang sangat populer setelah ia menjabat sebagai Panglima Kodam XVI / Pattimura dan Pangkoopslihkam (Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan) di tahun 2002 hingga tahun 2003 yang berhasil meredam konflik yang terjadi di Maluku kemudian mendapatkan jabatan berikutnya pada tahun 2003 di bulan Maret hingga bulan Oktober sebagai Panglima Kodam Jaya.

Karir Djoko Santoso kemudian selalu naik bahkan hingga ia menjadi Wakil Kepala Staf TNI-AD (Wakasad) di tahun 2003. Di tahun 2005, ia menjabat sebagai Kasad (Kepala Staf TNI-AD), hingga pada tahun 2007 sampai tahun 2010 ia menjabat sebagai Panglima TNI.

Ia bersekolah di SMA Negeri 1 Surakarta dan juga telah berhasil menyelesaikan studinya di sana. Setelah itu di tahun 1975 setelah lulus, ia kemudian masuk ke Akademi Militer. Bukan itu saja, ia juga mengikuti Sussarcabif (Kursus Dasar Kecabangan Infanteri) di tahun 1976, Suslapapur (Kursus Lanjutan Perwira Tempur) di tahun 1987, Seskoad (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat) di tahun 1990 dan di tahun 2005 mengikuti Lemhannas.

Pendidikan Djoko Santoso tidak sampai di situ saja. Ia bahkan masih melanjutkan studinya dengan mengambil jurusan Sarjana Ilmu Politik pada S1 dan Manajemein Politik pada S2 di Universitas Terbuka di Jakarta.

Pemakaman Djoko Santoso di San Diego Hills

Djoko Santoso meninggal dunia pada 10 Mei 2020 hari Minggu di pagi hari pada umur 67 tahun dikarenakan penyakit yang dideritanya. Ia meninggal di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Beliau kemudian dimakamkan di San Diego Hills yang terletak di Karawang, Jawa Barat.

Nama San Diego Hills sudah tidak asing lagi sebagai tempat pemakaman yang mewah dan juga elit dengan lahan yang luas yaitu 502 hektar. Di lahan seluas ini, Anda akan menemukan banyak pilihan tipe makam untuk 1 orang hingga lebih dari 10 orang dengan lokasi yang berbeda-beda. Biasanya semakin tinggi lokasi atau berada di puncak maka harga makam akan semakin mahal.

Jadi bukan hanya jumlah makam yang menjadi penentu harga namun juga lokasi makam termasuk desain arsitektur mansion yang ada di sana. Beberapa mansion bahkan memungkinkan Anda untuk membangun atau menambahkan beberapa tambahan fasilitas atau bangunan namun harus mendapatkan izin dari pihak San Diego Hills terlebih dahulu.

Djoko Santoso dimakamkan di area khusus untuk para pahlawan. Di San Diego Hills juga ada tempat penyimpanan abu jenazah sehingga bagi yang dikremasi abunya bisa disimpan di bangunan khusus yang ada di San Diego Hills. San Diego Hills mengutamakan kenyamanan dan juga keamanan bagi para peziarah, pemilik makam, ataupun yang hanya sekedar datang berkunjung ke San Diego Hills.

Mengenal Tentang Basofi Soedirman yang Dimakamkan di San Diego Hills

Nama Anggodo Widjojo sempat ramai dibicarakan pada tahun 2009 dan 2010. Nama Anggodo dan Anggoro tidak lepas dari kata cicak dan buaya. Namun, Anggodo telah meninggal dunia di Rumah Sakit Perdana Menteri Nginden Surabaya, Jawa Timur dan jenazahnya dimakamkan di San Diego Hills. Anggodo yang sedang berusia 63 tahun pada waktu itu menjadi tersangka kasus suap yang dipimpin oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ia berusaha mencegah KPK mengusut sistem komunikasi radio terintegrasi yang melibatkan kakaknya, Anggoro. Anggoro ikut serta dalam proses pidana dan menyuap empat anggota DPR IV serta memenangkan Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) Kementerian Kehutanan 2006-2007 Proyek Rp 180 Milyar.

Anggodo Widjojo Terkenal Dengan Istilah Cicak vs Buaya

Kasus Anggodo dan Anggoro ramai diperbincangkan dan memicu konflik antara KPK dan Polri yang berujung pada munculnya istilah cicak dan buaya. Kasus tersebut melibatkan dua pimpinan KPK, Chandra Hamzah dan Bibit S Rianto, yang diduga menjadi terpidana.

Bibit dan Chandra dicurigai polisi dan didakwa menerima suap dari Anggoro melalui Anggodo dan dituding menyalahgunakan kewenangannya saat mengeluarkan surat pencegahan dari PT Era Giat Priman Djoko S Tjandra dan Direktur PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo. Namun ternyata terlihat rekaman percakapan yang disadap KPK itu bohong.

Anggodo Widjojo dijatuhi hukuman penjara hingga tahun 2019 tetapi dibebaskan bersyarat pada 6 Maret 2015. Dia akan mendapatkan kebebasan murni sebelum akhir 14 Januari 2019. Anggodo dinyatakan bersalah atas tindak pidana persidangan, yakni berusaha mencapai kesepakatan dan menghalangi proses penyidikan. Ia diduga berusaha menyuap penyidik dan pimpinan KPK senilai 5 miliar rupiah.

Bisnis Anggodo Widjojo

Anggodo dan Anggoro mendapatkan bakat bisnis dari ayahnya Ang Gai Hwa yang sangat fleksibel di kalangan industri Surabaya. Ayah mereka dikenal menjual dinamo di daerah Kalimati dan lebih dikenal di kompleks Kembang Jepun, Surabaya, Jawa Timur. Mereka akhirnya menjalankan bisnis keluarga, tetapi sayang, mereka terjerumus ke dalam situasi ilegal.

Anggodo adalah seorang pengusaha jati bahkan dikenal sebagai “Raja Jati” karena memang ia adalah ahli kayu jati. Ong Yuliana adalah wanita yang bisa meluluhkan hati Anggodo. Menurut pemberitaan, mereka sudah sangat dekat sejak kasus Anggodo dengan Ong terjadi pada 2006 yang menimbulkan kontroversi di Surabaya akibat kasus narkoba.

Pemakaman Anggodo Widjojo di San Diego Hills

San Diego Hills merupakan pemakaman yang sangat populer di Indonesia karena keunikan dan juga keindahannya. Anda tidak akan melihat berbagai fasilitas yang hanya ada di San Diego Hills dan tidak ada di tempat pemakaman yang lain.

Bahkan keindahan tempat pemakaman ini tidak ada tandingannya. Setelah Anda masuk ke area San Diego Hills, Anda akan melihat bahwa seluruh area ditumbuhi oleh rerumputan yang hijau dan pohon yang rindang.

Terdapat juga jalan setapak untuk menuju beberapa mansion di San Diego Hills. Beberapa fasilitas yang ada di San Diego Hills seperti jogging track, area untuk bersepeda, area camping atau outbond, restoran italia, danau buatan yang indah, heli pad, dan berbagai fasilitas keren lainnya.

Kemewahan dan keindahan ini memang tidak diragukan lagi apalagi sampai Anggodo Widjojo dimakamkan di sini. Belum lagi banyaknya pilihan tipe makam yang tersedia di berbagai lokasi dengan ketinggian bukit yang berbeda-beda. Dengan ini maka Anda bisa lebih mudah memilih sesuai kebutuhan. Namun ingat bahwa lahan makam San Diego Hills terbatas dan juga harga yang akan selalu naik setiap tahunnya.

Mengenal Tentang Basofi Soedirman yang Dimakamkan di San Diego Hills

San Diego Hills merupakan pemakaman yang elit dan mewah bahkan sudah terkenal di Indonesia dengan konsep yang berbeda dari tempat pemakaman pada umumnya. Bahkan terdapat area yang dikhususkan untuk para pahlawan atau tokoh Nasional di mana salah satu tokoh yang dimakamkan di sini yaitu Basofi Soedirman. Wajar jika harga pemakaman San Diego Hills juga terbilang mahal.

Mengenal Tentang Basofi Soedirman

Mayor Jenderal TNI Basofi Soedirman adalah Gubernur Provinsi Jawa Timur yang telah menjabat dari tahun 1993 hingga 1998. Basofi Soedirman lahir tanggal 20 Desember 1940 di Bojonegoro, Jawa Timur. Basofi Soedirman memiliki cita-cita yaitu ia ingin menjadi seorang tentara yang sudah diinginkannya sejak kecil. Ini juga karena pengaruh dari sang ayah.

Kemudian di tahun 1960, Basofi Soedirman akhirnya menamatkan SMA-nya kemudian ia memutuskan untuk melanjutkan studinya di AMN Magelang. Ia kemudian melanjutkan karir militernya setelah lulus dari AMN.

Di tahun 1971 hingga tahun 1972, beliau menjabat sebagai komandan unit tempur. Kemudian tahun berikutnya pada tahun 1973 hingga tahun 1974 ia juga menjabat sebagai Komandan Batalyon Brawijaya 412. Dan juga di tahun 1981 hingga tahun 1983, beliau juga menjabat sebagai Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 18/Kostrad.

Beliau juga merupakan Komandan Kodim 0824/Jember selama tahun 1997 hingga tahun 1978. Di tahun 1983 hingga di tahun 1984, ia juga pernah menjabat sebagai Asisten Teritorial Kodam IV/Brawijaya.  Kemudian pada tahun 1984 hingga tahun 1986, 9a menjabat sebagai Komandan Korem 083/Baladhika Malang hingga kemudian bergabung ke Mabes ABRI di mana sebelumnya ia masih menjabat sebagai Kasda, Kobam I/Bukit Barisan di tahun 1986 hingga tahun 1987.

Pada tahun 1979, Basofi Soedirman pernah mengikuti Seskogab di mana pada tahun lalu di tahun 1978, beliau juga pernah ikut serta dalam Seskoad. Sebelum menjadi Gubernur Jawa Timur, Basofi Soedirman pernah menjabat sebagai Ketua DPD Golkar di DKI Jakarta hingga kemudian di tahun 1987 ia diangkat menjadi Wakil Guberner DKI Jakarta dalam bidang pemerintahan.

Pemakaman Basofi Soedirman di San Diego Hills

Basofi Soedirman wafat tanggal 7 Agustus 2017 di Jakarta di usianya pada 76 tahun. Basofi Soedirman kemudian dimakamkan di San Diego Hills di Karawang, Jawa Barat. San Diego Hills sendiri adalah pemakaman yang unik, lingkungannya sangat indah, pengunjung dapat yakin bahwa ziarah di sini akan memberikan kenyamanan bahkan bisa juga datang berkunjung untuk menikmati fasilitas yang ditawarkan.

Di San Diego Hills terdiri dari banyak pilihan mansion di mana setiap mansion memiliki tipe makam yang berbeda-beda baik untuk 1 orang saja atau bahkan lebih dari 10 orang. Tentu setiap mansion juga telah memiliki desain arsitektur bangunannya sendiri bahkan San Diego Hills menawarkan nuansa makam yang telah disesuaikan dengan agama dan budaya yang ada di Indonesia.

Nuansa yang ada di San Diego Hills meliputi nuansa universal, nuansa Islam, dan nuansa Tionghoa. Setiap makam yang dibangun sesuai dengan nuansanya telah disesuaikan berdasarkan aturan dan kaidah dalam masing-masing agama sehingga bisa dilakukan pemakaman dengan layak dan yang berziarah juga dapat berdoa sesuai dengan agamanya masing-masing.

Apabila Basofi Soedirman yang merupakan tokoh nasional sampai dimakamkan di San Diego Hills, tentu ada yang menarik dari pemakaman yang satu ini. Bisa dilihat dari fasilitas yang ditanamkan pada sebagian area dari San Diego Hills yang memberikan kenyamanan termasuk lingkungan yang hijau dan asri.

Mengenal Tentang Arswendo Atmowiloto yang Dimakamkan di San Diego Hills

Menurut laporan, Arswendo Atmowiloto, penulis novel Keluarga Cemara, memesan tempat peristirahatan terakhirnya di perbukitan San Diego Hills sepuluh tahun lalu. Seperti kita ketahui bersama, Arswendo Atmowiloto meninggal karena penyakit kandung kemih yang berkepanjangan dan telah lama dideritanya.

Mengenal Tentang Arswendo Atmowiloto

Arswendo Atmowiloto adalah penulis berita dan reporter berita di Indonesia, aktif di berbagai majalah dan surat kabar seperti Hai dan KOMPAS. Tak hanya itu, ia juga menulis cerpen, adegan film, naskah drama, dan novel.

Arswendo lahir pada 26 November 1948 di Surakata, Jawa Tengah, dan meninggal di Jakarta pada 19 Juli 2019 pada usia 70 tahun. Arswendo Atmowiloto meninggalkan istrinya, tiga orang anak, dan enam orang cucu.

Nama Arswendo adalah Sarwendo saat ia lahir, namun ia mengganti namanya menjadi Arswendo dan menambahkan nama belakang ayahnya, Atmowiloto. Pada tahun 1971, ia menerbitkan cerpen pertamanya “Sleko” di majalah Bahari. Sejak 1972, ia menjadi ketua kelompok sastra Pusat Seni Jawa Tengah di Solo.

Juga di tahun 1970-an, dia menulis cerita populer berjudul Keluarga Cemara tentang sebuah keluarga kecil yang tinggal jauh dari ibu kota. Kisah ini akhirnya berhasil dan diadaptasi menjadi sinetron dan film yang sangat sukses. Pada 1980-an, Arswendo menulis novel yang diadaptasi dari film Serangan Fajar dan Pengkhianatan G30S / PKI. Pada edisi 1990, Tempo menyebut Arswendo sebagai “penulis Indonesia paling produktif”.

Pemakaman Arswendo Atmowiloto di San Diego Hills

Arswendo Atmowiloto meninggal karena kanker kandung kemih di kediamannya di kawasan Petukangan, Jakarta Selatan pada 19 Juli 2019, di usia 70 tahun. Dia dimakamkan di San Diego Hill, sebuah makam yang telah dibeli sepuluh tahun lalu.

Pemilihan lahan di perbukitan San Diego disengaja karena merupakan taman yang sangat luas, nyaman dan asri yang nyatanya merupakan tempat pemakaman. Ini tidak terlihat karena biasanya banyak tumbuhan rindang yang selalu dirawat dan dibersihkan untuk menjaga dan melindungi keasrian area pemakaman termasuk memberikan kenyamanan kepada para peziarah yang datang.

Dengan memadukan konsep pemakaman hutan dan rumput yang elegan dengan budaya Indonesia, San Diego Hill telah menjadi simbol komunitas kelas atas milik Lippo Land Club. Oleh karena itu, siapa pun dapat dimakamkan di sini tidak peduli dengan budaya dan agama semuanya dapat membeli lahan makam di San Diego Hills.

San Diego Hills menawarkan 3 pilihan nuansa sesuai dengan agama yang ada di Indonesia yaitu nuansa universal, nuansa Islam dan nuansa Tionghoa. Jadi Anda bisa memilih area makam dengan nuansa yang sesuai dengan agama yang dianut. Arsitektur makam dan bangunan yang ada juga telah disesuaikan dengan aturan dan kaidah agama masing-masing.

Pelayanan dan fasilitas yang diberikan oleh San Diego Hill sangat memuaskan, wajar jika area makam di sini sangat mahal harganya, mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta bahkan ada juga area dengan harga mencapai miliaran. Ini sudah termasuk area khusus yang lebih privat dan juga untuk keluarga besar dan pastinya lokasi yang strategis.

Sama seperti Arswendo Atmowiloto yang memesan lahan makam San Diego Hills terlebih dahulu sebagai persiapan, Anda juga bisa melakukannya dengan pembelian makam secara pre need. Anda akan mendapatkan harga makam yang lebih murah dan pastinya masih tersedia banyak pilihan makam serta tidak perlu terburu-buru dalam memilih lahan yang tersedia.

Mengenal Tentang Johannes Oentoro yang Dimakamkan di San Diego Hills

Salah satu makam yang bisa dibilang mewah di Indonesia berlokasi di Karawang, Provinsi Jawa Barat yang bernama San Diego Hills. San Diego Hills adalah pemakaman yang bisa dibilang mewah, yang berbeda dengan pemakaman orang-orang pada umumnya. Bahkan ada beberapa pahlawan, tokoh nasional, artis, dan pengusaha yang dimakamkan di sini, salah satunya Johannes Oentoro.

Mengenal Johannes Oentoro

Dr. Johannes Oentoro lahir pada tanggal 24 Mei 1952 dan juga adalah pendiri Yayasan Pelita Harapan. Ia juga sangat aktif dalam setiap kegiatan di gereja dan kegiatan lainnya. Johannes juga merupakan presiden pertama Universitas Pelita Harapan. Beliau juga ikut serta dalam proses pendirian dan pembangunan Rumah Sakit Siloam.

Musik dan seni adalah favorit dari Johannes Oentoro. Bukan hanya Universitas Pelita Harapan, Johannes juga merupakan pendiri dan kepala sekolah pertama Dian Harapan dan Lentera Harapan. Dia adalah pemimpin visioner dan pendiri universitas, sekolah, lembaga pendidikan, dan layanan kesehatan.

Johannes wafat di Jakarta pada tanggal 27 April 2011 dan dimakamkan di San Diego Hills, salah satu tempat pemakaman yang elit di Indonesia tepatnya terletak di Karawang, Jawa Barat. pembangunan San Diego Hills mengintegrasikan hutan dan vegetasi dengan budaya Indonesia yang membuat kompleks pemakaman ini lebih terlihat seperti taman wisata daripada pemakaman umum.

Pemakaman Johannes Oentoro di San Diego Hills

Pada dasarnya, tempat pemakaman San Diego ini dikelilingi pemandangan yang asri, mulai dari pepohonan yang rindang, vegetasi hingga bangunan mewah atau mansion pada setiap area, bahkan danau yang memberikan kesan elegan.

Di areal seluas 502 hektar ini terdapat banyak makam yang bisa dipilih, dengan ketinggian bukit dan cara penguburan yang berbeda bisa dikubur di dalam tanah atau ada tempat untuk kremasi. Ada juga area Hereos Plaza khusus untuk para pahlawan yang telah berjasa pada Indonesia. kemewahan dan keindahan ini kemudian menjadi alasan Johannes Oentoro dimakamkan di sini dan juga masyarakat Indonesia.

Jika ingin menggelar acara pemakaman dengan banyak orang untuk hadir, San Diego Hills juga menyediakan berbagai fasilitas penunjang, antara lain penggalian, tenda, kursi, karpet, dll. Harga VIP Rp 107 juta sudah termasuk menggali lubang dan menutup peti mati, menempatkan peti mati, tenda berukuran 36 x 6 m, karpet dan tenda seluas 216 meter persegi dengan kapasitas 200 tempat duduk. Dan 2 kotak gelas air.

Untuk paket VVIP, layanan meliputi penggalian lubang, penutupan lubang dan penempatan peti mati, tenda dan karpet berukuran 3.6 x 6 m, serta dilengkapi tenda dengan luas 360 meter persegi, 350 buah kursi dan 2 kotak gelas air. Harga paket software VVIP yang disediakan adalah Rp 174 juta.

San Diego Hills menawarkan tempat pemakaman yang beragam di mana setiap area terdiri dari jumlah makam dan juga ukuran yang berbeda-beda. Setiap area juga memiliki bangunan mansion yang unik agar lebih mudah dicari bagi yang ingin berziarah. Bukan hanya itu saja, setiap mansion juga dibangun berdasarkan agama yang ada di Indonesia dengan nuansa universal, Islam, dan Tionghoa. Artinya semua orang dapat dimakamkan di sini tanpa melihat budaya dan agamanya.

Melihat Johannes Oentoro yang dimakamkan di sini, tentu kenyamanan yang ditawarkan oleh San Diego Hills memang tidak perlu diragukan lagi. Belum lagi berbagai fasilitas yang lengkap yang lebih terlihat seperti tempat wisata alam dibandingkan tempat pemakaman.

Mengenal Tentang Rachmat Saleh yang Dimakamkan di San Diego Hills

Keberadaan San Diego Hill Memorial Park bukan seperti kuburan biasa, melainkan kuburan yang indah dan nyaman untuk mengenang orang yang kita cintai. Dengan konsep pemakaman yang mewah dan indah, bahkan ada area yang didedikasikan untuk para pahlawan dan tokoh nasional lainnya, salah satunya Rachmat Saleh.

Mengenal Rachmat Saleh

Pada tanggal 1 Mei 1930, Rachmat Saleh lahir di Surabaya, Jawa Timur. Ia menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia dari tahun 1972 hingga 1983, dan menjabat sebagai Menteri Perdagangan ke-21 Indonesia dari tahun 1983 hingga 1988. Di era orde baru, ia juga salah satu tokoh yang berperan penting dalam pembangunan negara.

Rachmat Saleh adalah lulusan Jurusan Ekonomi Universitas Indonesia. Awalnya pada tahun 1956, ia menjabat sebagai pegawai Staf Umum Statistik Ekonomi. Dia ditugaskan di Reserve Bank of Mumbai, India, dan ditunjuk sebagai perwakilan sementara dari Badan Intelijen Bisnis AS. Pada tahun yang sama, ia juga menjabat sebagai Asisten Sekretaris Perwakilan RI di Amsterdam, Belanda.

Pada 1980-an, Rachmat Saleh berhasil menerapkan strategi ekspor migas, dan pada 1984 ikut serta dalam upaya Indonesia mewujudkan swasembada beras. Selama periode ini, Rachmat Saleh masih menjadi Menteri Perdagangan.

Pemakaman Rachmat Saleh di San Diego Hills

Pada 11 Februari 2018, Rachmat Saleh meninggal dunia di Jakarta. Tepatnya, ia dimakamkan di tim seremonial militer di Pemakaman San Diego Hill di Karawang, Jawa Barat. San Diego Hill adalah pemakaman mewah yang mahal, namun dari fasilitas dan layanan yang diberikan, lingkungan sekitar San Diego Hill sangat hijau dan asri bahkan dijaga kebersihannya setiap hari, yang memang alami sehingga sepadan dengan harga makam yang ditawarkan.

Harga pemakaman yang ditawarkan San Diego Hill juga berbeda. Ini didasarkan pada posisi dan opini yang diperoleh serta faktor lain (seperti ukuran lot). Untuk sebuah makam, biayanya mulai dari Rp 63,5 juta hingga Rp 100 juta. Untuk perusahaan semi swasta, harga tanah kuburan berkisar antara Rp 250 juta hingga Rp 475 juta, tergantung lokasinya.

Bahkan ada tanah untuk satu keluarga beranggotakan sepuluh orang, harganya bisa mencapai milyaran rupiah. Umumnya, semakin baik lokasinya, semakin mahal harganya. Jika ingin memberikan layanan pemakaman bagi banyak orang, San Diego Hills juga menawarkan paket pemakaman.

San Diego Hills dimiliki oleh PT Lippo Karawaci Tbk. Terdapat banyak fasilitas unik yang ditawarkan oleh San Diego Hills membuat area tersebut sering dikunjungi oleh mereka yang hanya ingin melihat-lihat kompleks makam dan bukan bertujuan untuk berziarah.

Siapa yang tidak penasaran dengan tempat yang disebut makam ini namun memiliki fasilitas keluarga seperti track untuk jogging dan bersepeda, danau yang indah, restoran italia, kolam berenang, gedung serbaguna, dan berbagai fasilitas keluarga lainnya yang menarik.

San Diego Hills memiliki banyak pilihan makam yang berlokasi di area yang berbeda-beda dan sudah dibagi berdasarkan area dan mansionnya. Bukan hanya pemakaman di bawah tanah juga namun juga ada bangunan untuk menyimpan abu sehingga bagi yang keluarganya dikremasi juga bisa menyimpang abu di sini.

Terdapat juga area Heroes Plaza yang digunakan sebagai tempat untuk pemakaman tokoh nasional tentunya area ini terpisah dari area lainnya untuk masyarakat. Di sinilah Rachmat Saleh dimakamkan bersama dengan tokoh nasional lainnya. San Diego Hills juga menyediakan area pemakaman khusus untuk jenazah covid-19 di tengah pandemi ini.

Mengenal Tentang Endang Rahayu Sedyaningsih yang Dimakamkan di San Diego Hills

Endang Rahayu Sedyaningsih lahir pada 1 Februari 1955 adalah seorang dokter, peneliti dan penulis Indonesia. Sejak tanggal 22 Oktober 2009, beliau menjabat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia hingga beliau wafat di tanggal 2 Mei 2012.

Mengenal Tentang Endang Rahayu Sedyaningsih

Sedyaningsih memperoleh gelar kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1979, dan Magister Epidemiologi Publik (MPH) dan Doktor Kesehatan Masyarakat (DrPH) dalam Epidemiologi Sosial dari Harvard School of Public Health pada 1997.

Sedyaningsih memulai pekerjaan klinisnya pada tahun 1979 di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. Di tahun 1980, bergabung sebagai pelayanan kesehatan dan bekerja selama 3 tahun di Puskesmas Waipare di pelosok Nusa Tenggara Timur.

Kemudian di tahun 1983, beliau pindah ke Jakarta dan terus memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Endang bergabung dengan NIHRD di tahun 1997. Sedyaningsih telah menjadi peneliti di NIHRD selama lebih dari sepuluh tahun.

Beliau bekerja selama 6 bulan di markas besar Organisasi Kesehatan Dunia di Jenewa, Swiss di tahun tahun 2001. Mulai dari tahun 1997 hingga 2006, Sedyaningsih memegang posisi penting di markas besar Organisasi Kesehatan Dunia Jenewa sebagai konsultan teknis untuk departemen pengawasan dan tanggapan penyakit menular.

Endang kemudian diangkat menjadi direktur Pusat Program Penelitian dan Pengembangan Biomedis NIHRD bersama dengan para peneliti lainnya di tahun 2007. Endang diangkat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Menteri Kesehatan Republik Indonesia serta menjadi salah satu anggota Kabinet Indonesia Bersatu terpatnya di tanggal 22 Oktober 2009.

Berita buruk datang pada tanggal 22 Oktober 2009, Endang didiagnosis menderita penyakit kanker paru-paru dan menerima perawatan ekstensif. Endang Rahayu Sedyaningsih berusaha melawan penyakitnya namun pada tanggal 20 April 2012, ia dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM Cipto Mangunkusumo) karena penyakit kronis yang dideritanya.

Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi Endang di rumah sakit tanggal 26 April 2012, ia mengundurkan diri sebagai Menteri Kesehatan karena sakit. Presiden Yudhoyono menandatangani No. 46 / P / 2012 pada tanggal 30 April 2012, sehingga mengakhiri masa jabatan Sedyaningsih sebagai Menteri Kesehatan Indonesia.

Endang meninggal dunia pada tanggal 2 Mei 2012 di RSCM di Jakarta pada usia 57 tahun. Keesokan harinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar pemakaman kenegaraan di San Diego Hills Memorial Park di Karawang, Jawa Barat di area Heroes Plaza.

Tentang San Diego Hills

San Diego Hills merupakan sebuah kompleks pemakaman yang mewah dan elit dengan konsep taman yang indah bahkan ditumbuhi oleh pepohonan yang rindang dan rumput yang hijau. San Diego Hills bahkan dilengkapi dengan berbagai fasilitas menarik yang tidak akan Anda temukan di tempat pemakaman lain di Indonesia.

Beberapa fasilitasnya seperti restoran, area untuk camping, jogging, bersepeda, danau, minimarket, kolam renang, dan berbagai fasilitas keren lainnya. Untuk pilihan lahan makam terdiri untuk 1 orang atau bahkan lebih dari 10 orang tanpa memandang suku dan agamanya. San Diego Hills telah menyediakan arsitektur makam di area tertentu yang telah disesuaikan dengan agama masing-masing.

San Diego Hills yang memiliki area Heroes Plaza adalah area untuk pemakaman para tokoh nasional sehingga almarhum Endang Rahayu Sedyaningsih juga dimakamkan di sini. Wajar jika banyak yang tertarik dengan tempat pemakaman yang satu ini karena memang sangat indah dan nyaman tidak terlihat seperti tempat pemakaman.

Mengenal Tentang Ronny Pattinasarany yang Dimakamkan di San Diego Hills

Apabila kita membahas tentang tempat pemakaman elit dan mewah di Indonesia maka tentu jawabannya adalah San Diego Hills. San Diego Hills berlokasi di Karawang, Jawa Barat. Menariknya, San Diego Hills juga dipilih sebagai tempat untuk pemakaman tokoh nasional misalnya seperti Ronny Pattinasarany.

Mengenal Tentang Ronny Pattinasarany

Di tahun 1970-an hingga pada awal tahun 1980-an, Ronny Pattinasarany memang tidak asing lagi dalam dunia sepak bola dengan penggemar yang selalu mendukungnya. Ronny Pattinasarany merupakan gelandang serang andalan Timnas Indonesia. Beliau lahir di Makassar, Sulawesi Selatan tanggal 9 Februari 1949. Ia memulai karirnya dalam dunia sepak bola di PSM Makassar.

Setelah 10 tahun membela timnya, Ronny berhasil menjadi salah satu gelandang serang terbaik yang tercatat dalam sejarah di Indonesia. Puncaknya adalah ketika Ronny terpilih menjadi Asian All-Star di tahun 1982.

Ronny bahkan pernah mendapatkan penghargaan sebagai olahragawan terbaik di tingkat nasional tepatnya pada tahun 1976 dan 1981. Namun Ronny kemudian memutuskan untuk berhenti sebagai pemain sepak bola dan memilih untuk menjadi seorang pelatih dalam karir barunya.

Pemakaman Ronny Pattinasarany di San Diego Hills

Ronny Pattinasarany telah berjuang melawan penyakit kanker hati yang telah lama dideritanya sejak Desember 2007 namun akhirnya Ronny meninggal tanggal 19 September 2008 akibat penyakit tersebut yang dideritanya. San Diego Hills dipilih sebagai tempat peristirahatan terakhir Ronny yang terletak di Karawang, Jawa Barat.

San Diego Hill Memorial Park adalah makam pertama di Indonesia yang meletakkan konsep Forest Lawn pada kompleks pemakaman mereka yang juga menggunakan perpaduan budaya di Indonesia. Ini memungkinkan San Diego Hills berhasil menghilangkan pemikiran publik tentang kuburan yang selalu menyeramkan.

Karena penggunaan konsep yang unik ini, San Diego Hills berhasil membawakan tempat pemakaman yang asri, bersih, nyaman dan aman karena di setiap area kompleks telah ditumbuhi hijaunya rerumputan dan pepohonan sehingga keluarga akan lebih nyaman saat berziarah.

Umumnya tempat pemakaman hanya menyediakan lahan atau lubang makam untuk 1 atau 2 orang saja namun di San Diego Hills, tersedia area yang bahkan dikhususkan untuk lebih dari 10 orang bahkan dapat menggunakan desain sendiri namun harus mendapatkan izin dari pihak San Diego Hills terlebih dahulu.

Inilah yang membuat San Diego Hills istimewa. Padahal, setiap pemakaman di San Diego terletak di lokasi yang berbeda, termasuk di puncak gunung sehingga setiap pemakaman memiliki beberapa pemandangan. Tempat makam ini terbagi menjadi beberapa lokasi dengan ketinggian bukit yang berbeda dan juga area serta nuansa yang bervariasi.

Setiap jenis makam terdiri dari nama bangunannya yang memudahkan dalam memilih lokasi. Tentu saja, setiap mansion memiliki ciri arsitekturalnya sendiri. Bahkan setiap kawasan juga terbagi menjadi bangunan yang dibangun sesuai aturan dan kepercayaan agamanya masing-masing. Oleh karena itu dibedakan menjadi tiga wilayah yaitu umum atau universal, Islam dan Tionghoa. Terlepas dari agama dan budaya, semuanya bisa dimakamkan di sini.

Melihat bagaimana nyamannya San Diego Hills, wajar jika Ronny Pattinasarany  dimakamkan di sini. Membeli kuburan di San Diego Hill dibagi menjadi dua bagian: saat Anda membutuhkannya dan saat Anda membelinya hanya sebagai persiapan. Tentunya keduanya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan budget yang tersedia. Namun perlu diingat bahwa jumlah makam San Diego Hill terbatas dan harga meningkat setiap tahun.

Mengenal Tentang Hari Sabarno yang Dimakamkan di San Diego Hills

Mantan Mendagri (Menteri Dalam Negeri), Hari Sabarno yang menjabat pada era kepresidenan Megawati Soekarnoputri meninggal dunia pada tanggal 31 Mei 2019 di usianya pada 74 tahun. Almarhum Hari Sabarno dimakamkan di San Diego Hills yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat.

Mengenal Tentang Hari Sabarno

Jenderal TNI Hari Sabarno merupakan seorang perwira TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang juga termasuk ke dalam anggota dari Kabinet Gotong yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri. Beliau lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 12 Agustus 1944 dan meninggal pada tanggal 31 Mei 2019 di Jakarta pada usia 74 tahun.

Pada tahun 1967, Hari Sabarno menamatkan studinya di bidang Akademi Militer di Magelang dan akhirnya lulus. Megawati Soekarnoputri kemudian mengangkat Hari Sabarno pada tanggal 12 Maret 2004 sebagai Menterio Koordinator Politik dan Keamanan untuk menggantikan posisi yang sebelumnya diduduki oleh Susilo Bambang Yudhoyono yang telah mundur dari posisi tersebut.

Beliau menjabat menjadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dalam kabinet gotong royong di mana pada tahun 1997 – 1999 dan 1999 – 2004, ia juga pernah menjabat di DPR sebagai Ketua Fraksi di DPR. Hari Sabarno menerima promosi di tahun 2004 yaitu diberikan kenaikan pangkat yang merupakan bentuk penghormatan dari Letnan Jenderal menjadi Jenderal bersama A.M Hendropriyono.

Pemakaman Hari Sabarno di San Diego Hills

San Diego Hill Memorial Park merupakan tempat perstirahatan terakhir Hari Sabarno. San Diego Hills sendiri merupakan tempat pemakaman yang menarik karena bisa dibilang kompleks makamnya sangat mewah dan juga memang dikhususkan untuk masyarakat kelas atas bahkan termasuk tokoh-tokoh nasional. Pemakaman ini sengaja dibangun dengan konsep menyerupai taman yang dipadukan dengan budaya di Indonesia.

Desain arsitektur makam yang ada di San Diego Hills telah disesuaikan dengan budaya dan agama ada di Indonesia sehingga siapa saja bisa dimakamkan di sini tanpa melihat ras, suku dan budanya. Tentu saja pembangunan makam tidak sembarangan karena telah disesuaikan dengan khaidah agama masing-masing. Setiap nuansa sudah dipisah berdasarkan lokasi dan mansionnya sehingga tidak akan terganggu dengan area makam yang lainnya.

San Diego Hills menyediakan berbagai pilihan tipe makam sehingga lebih mudah dipilih sesuai dengan kebutuhan dan juga lokasi yang diinginkan. Ada makam khusus untuk 1 orang yaitu Single Burial dengan batu nisan yang diletakkan di atas tanah. Ada juga tipe makam untuk 2 orang dalam 1 lubang yaitu Semi Private di mana telah ada pembatas pagar berupa tanaman dan juga dinding.

Uniknya, San Diego Hills juga memiliki pilihan makam untuk lebih dari 2 orang bahkan bisa hingga 10 orang atau lebih yang lebih cocok dibeli untuk keluarga besar sehingga tidak terpisah nantinya dan pastinya harga per makam juga akan lebih murah. beberapa lokasi lahan makam juga telah dilengkapi dengan bangku untuk mendukung kenyamanan bagi para peziarah.

San Diego Hills juga terkadang memberikan izin untuk membangun atau meletakkan hiasan pada makam namun hanya di beberapa lokasi tertentu saja. Tentu saja ini harus mendapatkan persetujuan dari pihak San Diego Hills terlebih dahulu apakah boleh dibangun bangunan, seperti apa yang boleh dan tidak boleh, dan lainnya.

Untuk mendukung kenyamanan para peziarah, tersedia banyak fasilitas yang sangat lengkap. Ini juga yang menjadi salah satu alasan tokoh nasional Hari Sabarno dimakamkan di San Diego Hills termasuk sebagian masyarakat lainnya dan juga artis-artis di Indonesia.